Minggu, 13 November 2022

Dosen UIN Walisongo Antusias Berlatih Menulis Artikel Ilmiah Populer Dipandu PWI Jateng

Sebanyak 27 dosen antusias mengikuti Pelatihan Penulis Artikel Ilmiah Populer yang diadakan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang bersama PWI Provinsi Jawa Tengah pada Selasa 29 Maret 2022.

Pelatihan dimulai pukul 08.00 hingga 16.00 di Gedung SDB Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang.

Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah Amir Machmud NS mengatakan saat ini telah terjadi pergeseran praktik jurnalistik dari teks ke audio visual.
Hal ini melahirkankesulitan dalam beradaptasi. Sebab eksotika teks yang selama ini ada dalam konsep utuh jurnalisme yang menggambarkan imajinasi dan keindahan narasi dipatahkan dengan informasi secara visual.

Visual ini bisa berupa video atau penyampaian pesan secara simbolik yang ditekankan pada teks instan dan infografik yang filosofinya memperpendek daya tangkap melalui hal-hal yang mudah dicerna.
Amir Machmud yang memberikan sambutan sekaligus keynote speaker menuturkan, standar teks juga telah dihancurkan oleh kebutuhan viralitas media.

hasilkan keindahan teks itu sekarang sulit untuk dinikmati.
“Ketika banyak media yang lebih mengutamakan merayu, viral serta provokatif, ini sebuah pemaksaan,” ujarnya.
Pihaknya mengakui algoritma adalah jurus atau kiat. Tetapi nilai-nilai jurnalistik yang diusung adalah sebuah kemunduran.

“Pelatihan ini ingin saya jadikan ruang untuk mengajak kembali memercayai pers. Kita tidak ingin membayangkan tulisan ilmiah mengajarkan viralitas, berganti ke arah teks yang simbolik. Tentu tidak mungkin seperti itu. Saya menyadari eksotika teks akan ketemu jalan lain dalam bermedia. Untuk itu mari bergembira menulis dan serius untuk back to text,” terangnya.
Menurutnya, tulisan harus akuntabel, artinya yang bisa dipertanggungjawabkan dan dipercayaya. 
Dalam hal ini setiap tulisan harus melewati verifikasi yang ketat.

“Kalau kita menulis ilmiah jurnal, video dan visual itu tidak mungkin. Itu hanya pengayaan tabulasi yang melengkapi teks dalam karya ilmiah popular, karena ada kaidah selingkung dalam penulisan ilmiah. Ambilah spesialisasi atau kekhususan-kekhususan yang Bapak-Ibu kuat di situ untuk menulis,” lanjutnya. 
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang, Dr Arja Imroni dalam sambutannya mengatakan kenapa Islam berkembang, karena para ulama dulu itu menulis bukan membuat video.

“Seandainya budaya menulis tergerus pragmatisme viralitas karena terdorong google adsence, maka tidak bisa membuat tradisi ilmu dengan baik. Pesan video dan gambar memang mudah ditangkap tapi itu untuk masyarakat yang berbudaya rendah,” katanya.

Ia menjelaskan di perguruan tinggi seorang dosen bisa kepangkatannya naik tergantung seberapa banyak tulisannya, bukan seberapa viralnya.

Sumber : Suara Merdeka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesta Halloween